Tagged: Life

Flying Free

Once I heard a beautiful song. It is sung by an SATB choir, accompanied by a piano and a flute. “Flying Free”, by Don Besig. I consider this song is such a great composition; not only in musicality, but also in the depth of the poetry. The poem is such a powerful life contemplation. There we may find the author’s life journey, in which in the end he told us that he was finally flying free.

Here is the poem:

There is a place I call my own
Where I can stand by the sea
And look beyond the things I’ve known
And dream that I might be free.

Like the bird above the trees
Gliding gently on the breeze
I wish that all my life I’d be
Without a care and Flying Free.

But life is not a distant sky
Without a cloud, without rain
And I can never hope that I
Can travel on without pain

Time goes swiftly on its way
All too soon we’ve lost today
I cannot wait for skies of blue
Or dream so long that life is through.

So life’s a song I must sing
A gift of love I must share
And when I see the joy it brings
My spirits soar through the air.

Like that bird up in the sky
Life has taught me how to fly
For now I know what I can be
And now my heart is Flying Free!

And, if you want to enjoy the music, I’ve found the unique one: sung in TTB, in Korean. Enjoy: http://www.youtube.com/watch?v=bgCoCcPuNzY

Well then, as it had been sung, I’ll break this poem up into 3 parts: the first two stanzas, the middle two stanzas, and the last two stanzas. We might named them verse 1; verse 2; and verse 3.

Okay, verse 1! The beginning of the journey. Have you ever been in such a condition that you think that everything in your life is going to crush you up? Everything just make you sick of life, that you wish that you might have another life? You are so hopeless that you want to fly; just fly high enough that everyone won’t find you; every burden of your life would flee and just be gone away? I’ve been. Just like the birds. They’re just flying up and down. Without a care and no stress. To sum up, we are in such a burdenful of journey; and we are looking for an oasis.

Verse 2. The searching of what life is. Surely life is a journey. But what kind of journey? Where is the destination? How would we know what the direction is? Or how would we know that we are in a right or in a wrong direction? The journey is yet never stopped. So what is the oasis of life? Or, is there any oasis? And yet, there is so much pain and sickness we’ve found in life. So what do pain and sickness mean in the journey? Is it the barricade of the journey? Or yet, is it the journey itself? So what kind of journey?

So, in this verse, the author found that the journey always contains pain and burden. Moreover, you could not wait the burden to just go away, in order to continue the journey. The pain, the toughness of life is the part of journey. Then the conclusion is: we do not stop by in any oasis whenever we’ve got any burden. No such oasis. However, the burden is just the journey itself.

Verse 3. So what should we do? And then, what life is? What kind of journey it is? Hey, it seemed that everybody got the same problem. They are also in their own journey. They are also in their own burdens. And how should we interact with them? Oh some of them become the solution of the other. My journey got any progress from my friends’ journey, and vice versa.

So, the author got that life is a shared and sharing journey. All of us have our own journey. But those journeys are somehow connected, in divine sense. We are all connected. Then, my journey should be the ‘oasis’ for some other ones. And some else would be mine. That is why the author said that life is a gift of love which we have to share. Furthermore, the author found that sharing his life to others is indeed so blessing his own journey. He felt just like his spirit soar to the air, the feeling he had wished before to be experienced once he was sick of burdens. He was flying! How could? He never know how could he just fly. The life itself who teach him. The journey bring him soaring just like the birds up in the sky; just like he’d ever wished.

So, what life is? It is a set of flying up or falling down action of journey. How would we fly? That is our choice. How could we fly? Noone knows. Only THE LIFE and ourself who knows how could we fly by our own.

Have a pleasing journey!

 

“but those who hope in the LORD will renew their strength. They will soar on wings like eagles; they will run and not grow weary, they will walk and not be faint.” Isaiah 40:31

Advertisements

Petir, Kertas, Ratapan dan Kehidupan

Hujan. Dingin. Sendiri.

Tiga kata itu yang mungkin paling baik untuk mendeskripsikan keadaan saat ini. Jika Tuhan yang mengatur semua ini, aku pun bersyukur; karena suasana seperti ini merupakan suasana terbaik bagiku untuk menghujamkan ribuan keluhan mengenai hidup.

Hidup itu mengeluh. Tak seorangpun yang tak pernah mengeluh. Begitu pula aku, dan janin yang ada dalam kandungku. Banyak kali aku mendengar cerita mengenai kehidupan orang-orang ‘di luar sana’, yang begitu mengerikan bagiku. Tak kusangka, sekarang hal itu terjadi padaku.

Sepertinya air hujan turun dengan kecepatan yang semakin kencang. Aku menafsirkan itu dari suara benturan titik-titik air yang menubruk atap rumah kosanku yang semakin keras. Oh menurut hukum Newton yang kupelajari, ini berarti posisi awan semakin ke atas. Semakin tinggi posisi suatu benda dijatuhkan, kecepatan yang dihasilkan saat benda itu mencapai tanah akan semakin besar. Oh seandainya aku adalah awan hujan itu. Seandainya aku bisa terbang tinggi ke angkasa dan meluapkan segala kegeramanku pada seisi dunia. Sepertinya itu menyenangkan, namun juga sekaligus mengerikan.

Sama seperti tetesan air hujan itu. Seluruh duniaku menghujani relung hatiku. Seolah ribuan telunjuk sedang menuding ke arahku, menyatakan bahwa aku orang paling berdosa di dunia ini. Tidak, tidak. Bukan aku yang paling berdosa. Aku bukanlah pelakunya. Aku adalah korbannya. Tidak, tidak. Namun hal ini juga tidak akan terjadi jika aku bisa mengendalikan diriku. Aaaaargh! Semua ini begitu membebani pikiranku. Tidak, tidak. Tidak seorangpun dapat menolongku. Tidak, tidak. Tidak seorang pun akan percaya padaku. Tidak seorang pun boleh tahu.. bahwa aku hamil.

Kejadian itu berlangsung dua hari yang lalu. Aku menerima sebuah surat di kamar kosanku. Surat kaleng. Seseorang telah menjadi secret admirerku selama bertahun-tahun. Ia memberikan berjuta-juta pujian dan sanjungan atas kehidupanku. Dengan bodohnya, aku merasa tersanjung dan terhormat. Aku terjebak oleh buaian gombal pria jahanam itu! Di akhir surat, ia memberikan suatu alamat. Ia memintaku datang ke sana, untuk bertemu dengannya. Dengan hati yang berbunga-bunga, aku datang ke tempat itu. Tanpa pernah aku tahu apa yang sebenarnya terjadi di sana, aku hanya mengingat bau zat kimia memuakkan yang tak pernah kucium sebelumnya. Menusuk hidung, menyakiti ke paru-paru, menggerogoti seluruh organ tubuhku. Lemas dan semua gelap. Hal terakhir yang kuingat saat aku bangun, adalah rembesan air mata yang bercampur darah di sekujur lantai rumah tak berpenghuni itu. Semua terjadi begitu saja, tanpa pernah aku tahu siapa dia.

Rupanya punggung tangan kananku sudah banjir air mata. Belum pernah kurasakan pedih yang sedalam ini. Aku dulunya adalah segalanya. Tapi hanya dalam hitungan jam, aku bukanlah apa-apa. Aku kotor. Aku hina. Aku buruk. Aku sakit. Aku terkutuk! Tak pernah terpikir bahwa aku akan merasakan momen seperti ini. Kurasa perasaan ini hanya ada untuk orang-orang tak beradab saja, bukan untuk kurasakan.

Tuhan, jika Engkau benar-benar ada; mengapa aku Tuhan? Mengapa aku? Mengapa tidak kau utus wanita jalang lain saja yang harus mengalami hal ini? Aku mempunyai masa depan! Mengapa Kau renggut itu daripadaku? Aku memiliki segudang prestasi. Aku, seorang mahasiswi berprestasi tingkat akhir teknik elektro. Masa depan dan karirku cemerlang! Tidak sembarang perempuan bisa mencapai posisi seperti ini Tuhan! Hanya sedikit lagi, aku akan memiliki hidup yang penuh kelimpahan! Tapi mengapa.. Mengapa harus aku? Mengapa bukan si Jenny, gadis modis namun bodoh itu? Jelas dia lebih menawan daripada aku, toh dia juga bodoh, masa depannya suram. Mengapa bukan si Denissa, si cerewet kuper itu? Walaupun dia lumayan cantik, toh dia tidak punya sahabat. Mau dia hamil juga bukan masalah besar baginya. Masa depannya juga tetap suram. Tapi ini masa depanku Tuhan! Masa depan yang kubangun susah payah, dihancurkan oleh lelaki keparat itu! Kenapa Tuhaaan? Kenapaaaaaa! Sekalipun Tuhan yang merancang semua ini, mengapa tidak dari awal kau buat aku jadi pelacur. Mengapa Kau angkat aku meraih segudang prestasi membanggakan, jika pada akhirnya aku akan dipermalukan? Ini sangat kejam! Ini tidak adil! TIDAK ADIL! Di manakah Tuhan? Inikah rancangan agungmu atas hidupku? Apa jawabMu Tuhan?

Hujan semakin deras, seolah tidak mau kalah derasnya dengan aliran air mataku. Jeritan hatiku begitu menyayat-nyayat nuraniku. Ratapan bisuku ini membuatku semakin mual dan mengaduk-aduk isi perutku. Tiba-tiba,

BLAAR!

Suara guntur menghantam tanah. Keras sekali. Hentakan itu terasa sangat dekat. Aku melongok keluar jendela. Tidak, bukan tanah yang ia hantam. Rupanya kilat itu menyambar sebuah pohon kecil di seberang jalan. Pohon itu tumbang. Aneh, ini tidak ilmiah. Jelas rumah kosanku lebih tinggi daripada pohon itu, namun kenapa pohon itu yang tersambar? Lagipula juga ada pohon lain yang jauh lebih tinggi. Namun pohon itu sama sekali tidak tumbang. Adakah hubungannya dengan keluhan-keluhan yang aku ucapkan tadi? Inikah lawatanMu Tuhan? Melalui guntur yang mengerikan? Gila memang.

Ah, masa bodohlah dengan guntur. Lagipula hukum alam itu juga tidak adil. Petir akan selalu menyerang pohon yang paling tinggi di antara pohon-pohon lain di sekitarnya. Untuk apa pohon itu tumbuh tinggi-tinggi jika pada akhirnya sebuah petir akan menghancurkannya? Ini jelas kejam dan tidak adil! Lebih baik hujan dan petir tidak pernah ada di dunia ini.

“Ooh, jadi kertas itu asalnya dari pohon ya, Ma?”

Tentu saja, Nak!”

Tapi, kertas dan pohon kan bentuknya berbeda sekali!”

Aku tersentak oleh suara polos gadis kecil itu. Ah itu Rina, anak pemilik rumah kosanku. Keras juga suaranya, padahal seharusnya ruang bermainnya berjarak 10 meter dari kamarku. Ya memang kertas dari pohon, anak bodoh. Pohon-pohon itu sengaja dipelihara supaya suatu saat nanti ditebang dan dijadikan produk olahan, semacam kertas. Pohon-pohon itu sengaja diberi pupuk dan dirawat, supaya suatu saat ditebang, dihancurkan, dan dikoyak-koyak menjadi paper pulp. Pohon-pohon itu ada. Pohon-pohon itu berprestasi, menjadi pohon-pohon yang tinggi besar, memamerkan kekuatannya pada burung-burung dan langit. Namun pohon-pohon itu tidak akan pernah bermanfaat menjadi kertas jika ia tidak pernah ditebang dan dihancurkan.

Aku kembali termenung. Perkara-perkara kecil ini mulai mengusik pikiranku.

Petir.

Kilat.

Pohon.

Gadis kecil.

Kertas.

Janin.

 

Ratapan.

Lantas, Di manakah aku?

Saat itu, isak tangisku berhenti. Sekumpulan gagasan bermunculan di benakku. Bermacam-macam perasaan muncul mengaduk-aduk isi hatiku. Mengapa hal-hal itu ada dan bermunculan di sekitarku? Pohon kecil yang disambar petir jahanam. Pohon yang merupakan bahan dasar kertas. Kertas yang merupakan berkat besar bagi dunia. Aku terdiam. Keheningan batin yang sangat agung. Seolah terdapat suatu entitas yang berjalan-jalan di lorong-lorong hatiku. Entitas yang sangat agung. Seperti rakyat khalayak memberikan penghormatan saat Ratu Inggris melewati mereka. Keheningan ini mulai terasa menyeramkan.

Entah kenapa, tanpa diperintahkan otakku, otot-otot pada bibirku bergerak secara perlahan. Mereka membimbingku untuk tersenyum. Air mataku membludak, sekali lagi. Namun kali ini bukan air mata kesedihan. Tangis ini adalah tangisan syukur.

Siapakah aku?

Aku ada di tengah ribuan, tidak, milyaran benda kosmik yang melayang di angkasa semesta raya. Namun aku ada di sini, saat ini, bersama petir, kertas, dan ratapan. Kebetulan? Tidak masuk akal!

Hidup sedang membukakan rahasianya padaku. Dan Tuhan sendirilah instrukturnya.

Kehidupan adalah harapan. Hidup tidak selamanya baik. Hidup tidak selamanya tanpa awan, hujan, dan petir. Tapi hidup juga memuat pelangi dan kehangatan matahari di dalamnya. Persis seperti yang kurasakan saat ini.

Hujan seketika itu pula reda. Matahari menunjukkan jati dirinya pada langit dan titik-titik air, memantulkan dispersi cahaya yang luar biasa indah. Pemandangan ini membuatku tak kuasa tertawa penuh pengharapan.

 

Jelas Tuhan memberikan begitu banyak petunjuk mengenai kehidupan;

jika kita cukup peka..

Life and God

Terkadang hidup tidak semudah yang kita pikirkan. Justru seringkali kita tidak menyadari betapa kompleksnya hidup. Tidak ada aturan baku yang sanggup mendefinisikan kehidupan.

Tuhan adalah penguasa hidup. Tak satupun terjadi dalam hidup tanpa seizin Dia. Paling tidak itu informasi yang saya percaya. Lalu penguasa yang seperti apakah Tuhan itu? Penguasa super jenius yang merancang setiap detail aspek hidup? Mulai dari pilihan busana yang kita pakai hari ini sampai dengan pemilihan sekretaris jendral PBB, semuanya itu Tuhan atur sejak semula? Ataukah Pemilik perusahaan super kaya yang sudah stabil dan menyerahkan seluruh keberjalanan perusahaan tersebut pada bawahan-bawahannya? Sepertinya tidak keduanya. Jika Tuhan memang seperti pada pilihan pertama, berarti Tuhan juga merancangkan kejahatan; dan sepertinya hal itu tidak masuk akal. Jika pada pilihan kedua, maka Tuhan bukanlah pengatur kehidupan, dan manusia adalah “General Manager Perusahaan Kehidupan”. Namun sepertinya hal tersebut juga tidak masuk akal, karena jika hal itu benar, seharusnya manusia adalah makhluk yang tahu semua cara untuk mengendalikan perusahaannya. Namun nyatanya tidak demikian bukan? Manusia merupakan manager kehidupan yang paling menyedihkan.

Lalu seperti apakah Tuhan? Apa yang Dia kerjakan?

Bagi beberapa orang, Tuhan hadir melalui kejadian-kejadian supranatural yang mencengangkan akal dan pikiran rasional.

Bagi sebagian yang lain, Tuhan hadir melalui cinta kasih sesama manusia di sekelilingnya.

Bagi kaum yang lain, Tuhan hadir dalam enlightment pikiran yang sangat liar.

Bagi orang yang lain lagi, Tuhan hadir dalam paduan seni dan kesusastraan manusia.

Dan akhirnya, bagi sebagian yang terakhir, Tuhan tidak pernah muncul dalam kehidupannya.

 

Anehnya, kita semua, umat manusia, tahu bahwa Tuhan ada.

Namun sepertinya kita tidak akan pernah benar-benar tahu siapakah Tuhan itu.

Kita hanya tahu apa yang telah Dia perbuat bagi hidup kita.

 

Lalu bagaimana dengan hidup? Milik siapakah hidup itu? Adakah hidup itu anugerah? Ataukah hidup itu kengerian?

 

Kita semua tahu, saat kita bertanya, “Di manakah Engkau Tuhan?”, maka seketika itu juga kita merasakan bahwa Tuhan ada tepat di dalam diri kita. Kita ada, maka Tuhan pun juga ada.

[Choral] How I Shall I Sing to God?

Well, since I’ve chosen not to be active anymore in any choral society in my last 2-3 years; you might think that this post doesn’t suit me. But, in fact (trust me!) I was an active tenor and choral pianist for aproximately 3-4 years, since I was in secondary school.

Well then, today I was recollecting many of our repertoires we’ve experienced. One of them was this song: “How shall I sing to God” by Larson-Wren. I was a pianist while we were performing the repertoire. Unfortunately, I did not have the recording for our performance. It was a performance for a Youth Christmas Celebration in my church in Solo. I was browsing on YouTube and found another choir perform this repretoire, and they play well. This is the link if you mind: 

Our performance had a little bit faster tempo than the one in the video. However, at that time I was playing too fast and also I missed the climacs of the song. That was painful, but I thank God that I still play quite in order.

Well, forget about the bad performance. I would like to share the lyrics & my interpretation of the song:

Verse 1

How shall I sing to God
when life is filled with gladness,
loving and birth,
wonder and worth?
I’ll sing from the heart,
thankfully receiving,
joyful in believing.
This is my song;
I’ll sing it with love.

Verse 2

How shall I sing to God
when life is filled with bleakness,
empty and chill,
breaking my will?
I’ll sing through my pain,
angrily or aching,
crying or complaining.
This is my song;
I’ll sing it with love.

Bridge:

How shall I sing and tell my Saviour’s story,
Passover bread, life from the dead?
I’ll sing with my life, witnessing and giving,
risking and forgiving.

 

The lyrics was deep. It tells us how should we response to our daily life. Everyone face gladness and bleakness everyday. Everyone experience loving and pain every moment. However, the writer of the song tells us that every feelings that he experienced, should imply him to sing with love. Should we sing literally? So everytime, we were happy or sad, we’re immediately sing? Nope, the writer, in the bridge part, said that he ‘sing’ with his life. What does that means? By doing witnessing and giving, risiking and forgiving, he did response to God. Every moment he’ve experienced, lead him to get a better life, to get closer to God, to get closer to others.

A very short & ordinary interpretation, I think. Well, to sum up, after a long long time, I think I’d sing again. =p

Commit my Plan or Commit my Doing?

“Commit to the Lord whatever you do,
and he will establish your plans.”

Proverb 16:3

This verse of Solomon’s proverb played a role in my last life ‘project’. I joined PMK (Persekutuan Mahasiswa Kristen) ITB. It is a kind of a fellowship of ITB Christian Students. In the last early August, there was an initiation program for the ITB freshmen. PMK was also involved in the program in order to welcome the christian freshmen. We name the program PMB (Penyambutan Mahasiswa Baru). I joined PMB commitee as the coordinator of Mentoring Division.

In my opinion, this is the most complex and the hardest commitee I’ve ever joined. I met many struggle & bitterness. That was so awful. I can not tell every detail of those things. But one thing that I’ve learnt : in every single simple stuff, I have to commit them to my LORD. This is how He may establish my plans.

At first, I thought that the verse was ridiculous. I argued that the verse will be better and powerful if it said : “Commit to the Lord whatever you plan, and He will establish your doings.” That was what I did. I had so many plans, yet so many failures. So many great plans ended with epic disasters. In my dissapointment, I found that the verse don’t work well in my mind.

However, I was rethinking and reinterpretating those word. I found that it might be that the word was not powerless nor ridiculous. My way of thinking was. I made many plans by my own understanding. My plans were based on my own observation, my own wisdom, and my own knowledge. After that, I came to God, praying that all my plans should be perfect, that God keep my plans well. God is my plans-guard, someone who can assure me about the realization of the plans.

What a pity, that was absolutely mistaken. King Solomon said that I should commit my doings, not my plans. Everything I’ve done, both I’ve planned before and I’ve never planned. I should seek God first before I make any plan. I should know what was His Will for my problem. What He want me to do, and what He want me not to do, then I might made any plan after that.

That is why I was so depressed when my plan was not done well, because my knowledge was too litle to handle any possibilities.

I should commit everything first to the LORD, then His plan would be nice for me.