Tagged: cerpen

Bagaimana Tidak?

Dia masih tertidur pulas. Baru saja aku mengecek suhu tubuhnya yang mengindikasikan pemulihan kesehatannya. Setiap kali aku masuk ke kamarnya, perasaanku campur aduk. Perasaan menyesal, malu, geli, lega, kagum dan ungkapan syukur beradu kuat untuk menguasai status hatiku. Memang aku orang paling beruntung, dilahirkan sebagai putri tunggal dari seorang yang terlampau agung untuk dipahami nuraniku yang kerasnya melebihi batu pualam. Bagaimana tidak? Kau tak akan percaya jika kukatakan bahwa watakku yang begitu keras kepala ini dihancurkan berkeping-keping hanya dengan kalimat, “Ayah selalu beli kol goreng di Jalan Hasanuddin, depan stadion ABC.”

Kupandangi sekali lagi bekas luka goresan yang sudah mulai mengering di pipi Ayah. Kemudian, kubandingkan dengan luka gores di punggung tangan kananku yang tak seberapa itu. Seketika itu pula aku tertawa geli. Sungguh ironis! Luka gores itu muncul ketika Ayah sedang mengemudi, dan ketika itu kami sedang berdebat di dalam mobil. Sekonyong-konyong, jutaan partikel kaca yang mendadak berhamburan dari sisi kanan Ayah, bertanggung jawab atas guratan-guratan darah segar di wajah ayahku. Mungkin kau bertanya, mengapa aku tertawa ketika mengingat peristiwa tak mengenakkan itu. Bagaimana tidak? Segera setelah tabrakan, kalimat kol goreng itulah yang melesat dari lidah ayahku sebelum akhirnya ia tak sadarkan diri. Mungkin ia pingsan karena terlalu terkejut dalam tabrakan itu, tanpa pernah menyadari betapa terkejutnya bagian terdalam hatiku yang ditabrak oleh kalimat itu.

7

Tidak ada manusia yang dapat lebih mengesalkanku selain Ayah. Bagaimana tidak? Tentu kau tak suka bukan jika seorang membuka bagian-bagian dalam dirimu yang tidak ingin kau pertontonkan pada publik? Ya, kesalahan Ayah adalah ia terlalu mengenal diriku. Begitu mudah aku mengingat kekesalanku yang memuncak saat Ayah menasehatiku untuk tidak terlalu sering makan kol goreng. “Kol itu tidak ada gizinya, Rosa. Apalagi kalau digoreng, bukannya tambah nutrisi, malah tambah racun.” Betapa tidak kesal? Tentu aku yang adalah mahasiswi farmasi ini tahu persis fakta itu. Lagipula aku sendiri memang tidak sering memakan kol goreng. Aku makan kol goreng biasanya ketika Ayah datang membawakan nasi ayam kol goreng, yang ia klaim sebagai makanan favoritku. Ini menambah kekesalanku, karena seolah aku yang berilmu sarjana ini menggemari makanan sampah.

Sejak Bunda pergi dari rumah, orang-orang mengatakan bahwa aku berubah. Katanya, aku semakin keras hati dan tidak percaya siapapun. Nyatanya memang pekerjaan yang kukerjakan sendiri jauh lebih baik hasilnya ketimbang kukerjakan dalam kelompok. Demikian pula Ayah, kurasa ia juga tidak lebih berkapabilitas untuk mencereweti jalan-jalan hidup yang harus kutempuh. Memang kampusku masih dalam 1 kotamadya dengan rumah Ayah, namun berjarak lebih dari 20 km. “Kamu ini kan masih muda, jangan cepat-cepat merasa ingin independen dari Ayah. Apalagi kamu ini cewek, masih perlu menggali banyak pelajaran hidup dari orang yang lebih tua.” Tak kupercayai sarannya itu. Bagaimana tidak? Itu hanya keinginan egoisnya yang ingin menghindar dari merananya hidup sebatang kara di rumah, dengan jalan mengorbankan seperduabelas waktu dalam hariku untuk dihabiskan dalam bus yang penuh sesak, bau, dan berisik. Lagipula pelajaran hidup apa yang mau dia ajarkan? Supaya aku bisa tumbuh besar seperti Bunda? Bah, mengingat wajahnya saja aku sudah muak.

Teman-temanku menyarankan agar aku tidak terlalu keras terhadap Ayah. Menurut mereka, Ayah adalah seorang yang sangat perhatian kepadaku, melebihi perhatian ayah-ayah pada umumnya. Banyak temanku yang merasa iri karena mereka tidak pernah dipedulikan oleh ayahnya. Namun bagiku, kepedulian tanpa kompetensi adalah kepedulian yang kosong. Bagaimana tidak? Semua informasi yang ia ajukan kepadaku melalui pesan singkat di gawaiku hanya membicarakan hal-hal sepele yang dapat kuputuskan sendiri tanpa bantuannya. Memang dia sering sekali menawarkan untuk menjemputku dari kampus untuk makan malam bersama, dan sering pula kutolak dengan alasan sibuk dengan pekerjaan kampus. “Bukankah aku harus bertanggung jawab karena Ayah sudah membiayai kuliahku?” Itulah retorika andalanku. “Ya, tapi tanggung jawab akademik hanya satu dari sekian banyak tanggung jawab seorang anak kepada ayahnya” Itulah argumen respon andalannya. Biasanya ketika argumen ini muncul, tak kubalas lagi pesannya.

Memang sesekali aku menerima ajakannya untuk makan malam bersama. Bagaimana tidak? Sering aku merasa sudah terlalu lelah menolak usahanya yang terlampau gigih itu. Tawarannya adalah mengajak makan malam bersama dan biasanya dia hanya mampir ke rumah indekosku dan membawakan ayam kol goreng. Selalu. Dia selalu mengatakan bahwa ia senang sekali dapat bertemu denganku, apalagi melihatku makan ayam kol itu dengan lahap. Aku selalu tersinggung setiap dia mengomentari hal itu. Aku bukan mahasiswa konyol yang tak mengerti memilih makanan bergizi. Sementara itu, pembicaraan yang biasanya mengiringi denting sendok garpu kami adalah mengenai Bunda. Ayah sepertinya selalu ingin mengorek hatiku, memastikan bahwa pengkhianatan Bunda tidak meninggalkan jejak luka di dalamnya. Semakin aku mengelak membicarakan hal ini, Ayah semakin agresif mencurigai kepahitan hatiku. Oleh sebab itu, aku mulai belajar menggunakan kalimat-kalimat yang mengesankan bahwa hatiku sudah melunak. Biasanya setelah itu, Ayah terlihat lebih lega dan kemudian baru mau pulang. Melelahkan bukan?

Kemarin aku mengunjungi warung yang kukira menjual nasi ayam kol, yang dikatakan ayah sebelum ia kehilangan kesadaran setelah tabrakan. Rupanya warung itu hanya menjual kol goreng. Warung itu kecil sekali, tanpa papan nama ataupun spanduk. Saat itu, ayah masih beristirahat di rumah, sembari aku keluar untuk cari makan. Ketika aku mendekat untuk membeli kol goreng, mendadak air mataku mengalir di kedua pipiku. Bagaimana tidak? Aroma khas kol goreng yang rutin ayah belikan untukku muncul dengan kuat sekali di sini. Berarti, biasanya Ayah membeli ayam goreng dari tempat lain, dan setiap kali ia menyempatkan pergi ke warung terpencil ini hanya untuk membeli kol goreng ini. Untuk apa? Bukankah dia sendiri yang kerap menasehatiku untuk tidak banyak makan kol goreng? Maka kubelilah 2 bungkus kol goreng di sana. Bahkan sebelum aku sampai di parkiran mobil, kol goreng itu sudah kuhabiskan, dengan aliran deras air mata di wajahku. Tak kupedulikan tatapan orang-orang yang keheranan melihatku tersedu sembari mengunyah.

Kudengar Ayah memanggilku dari kamar, menyadarkanku dari lamunan. Rupanya ia meminta air hangat. Lantas, kubawakan pesanannya berikut dengan biskuit coklat favoritnya. Hanya sekitar 5 menit saja kami berbincang kala itu, dengan beberapa gelak tawa. Setelah itu, Ayah kembali tidur. Beberapa menit setelah kupandangi dia menyerah ke dalam alam mimpi, aku baru menyadari secarik kertas post-it yang melekat di laci samping tempat tidur. Ada tulisan tangan ayah di sana, hanya satu kalimat. Sepertinya baru saja ditulis, karena sebelumnya hanya ada segempal post-it kosong di sana. Kubaca kalimat itu selama semenit. Hatiku mendadak gulana. Kubaca sekali lagi tulisan itu. Seketika itu, aku merasa malu di hadapannya. Memang banyak sekali hal yang belum kupelajari dari hidupnya. Dan semakin malu aku, semakin banyak hal kuingat tentang hal-hal yang Ayah kerjakan dalam hidupku. Semakin kusesali sikapku, semakin kutemukan hikmatmu yang mengagumkan. Betapa indahnya perkataanmu, Ayah. Tentu kalimat itu tak berarti apapun tanpa kebulatan hatimu dalam menaruh kasih dan harapan kepadaku. Mulai dari sekarang, aku telah membulatkan tekadku. Aku tak akan makan kol goreng lagi, seumur hidup. Bagaimana tidak?

Advertisements

Petir, Kertas, Ratapan dan Kehidupan

Hujan. Dingin. Sendiri.

Tiga kata itu yang mungkin paling baik untuk mendeskripsikan keadaan saat ini. Jika Tuhan yang mengatur semua ini, aku pun bersyukur; karena suasana seperti ini merupakan suasana terbaik bagiku untuk menghujamkan ribuan keluhan mengenai hidup.

Hidup itu mengeluh. Tak seorangpun yang tak pernah mengeluh. Begitu pula aku, dan janin yang ada dalam kandungku. Banyak kali aku mendengar cerita mengenai kehidupan orang-orang ‘di luar sana’, yang begitu mengerikan bagiku. Tak kusangka, sekarang hal itu terjadi padaku.

Sepertinya air hujan turun dengan kecepatan yang semakin kencang. Aku menafsirkan itu dari suara benturan titik-titik air yang menubruk atap rumah kosanku yang semakin keras. Oh menurut hukum Newton yang kupelajari, ini berarti posisi awan semakin ke atas. Semakin tinggi posisi suatu benda dijatuhkan, kecepatan yang dihasilkan saat benda itu mencapai tanah akan semakin besar. Oh seandainya aku adalah awan hujan itu. Seandainya aku bisa terbang tinggi ke angkasa dan meluapkan segala kegeramanku pada seisi dunia. Sepertinya itu menyenangkan, namun juga sekaligus mengerikan.

Sama seperti tetesan air hujan itu. Seluruh duniaku menghujani relung hatiku. Seolah ribuan telunjuk sedang menuding ke arahku, menyatakan bahwa aku orang paling berdosa di dunia ini. Tidak, tidak. Bukan aku yang paling berdosa. Aku bukanlah pelakunya. Aku adalah korbannya. Tidak, tidak. Namun hal ini juga tidak akan terjadi jika aku bisa mengendalikan diriku. Aaaaargh! Semua ini begitu membebani pikiranku. Tidak, tidak. Tidak seorangpun dapat menolongku. Tidak, tidak. Tidak seorang pun akan percaya padaku. Tidak seorang pun boleh tahu.. bahwa aku hamil.

Kejadian itu berlangsung dua hari yang lalu. Aku menerima sebuah surat di kamar kosanku. Surat kaleng. Seseorang telah menjadi secret admirerku selama bertahun-tahun. Ia memberikan berjuta-juta pujian dan sanjungan atas kehidupanku. Dengan bodohnya, aku merasa tersanjung dan terhormat. Aku terjebak oleh buaian gombal pria jahanam itu! Di akhir surat, ia memberikan suatu alamat. Ia memintaku datang ke sana, untuk bertemu dengannya. Dengan hati yang berbunga-bunga, aku datang ke tempat itu. Tanpa pernah aku tahu apa yang sebenarnya terjadi di sana, aku hanya mengingat bau zat kimia memuakkan yang tak pernah kucium sebelumnya. Menusuk hidung, menyakiti ke paru-paru, menggerogoti seluruh organ tubuhku. Lemas dan semua gelap. Hal terakhir yang kuingat saat aku bangun, adalah rembesan air mata yang bercampur darah di sekujur lantai rumah tak berpenghuni itu. Semua terjadi begitu saja, tanpa pernah aku tahu siapa dia.

Rupanya punggung tangan kananku sudah banjir air mata. Belum pernah kurasakan pedih yang sedalam ini. Aku dulunya adalah segalanya. Tapi hanya dalam hitungan jam, aku bukanlah apa-apa. Aku kotor. Aku hina. Aku buruk. Aku sakit. Aku terkutuk! Tak pernah terpikir bahwa aku akan merasakan momen seperti ini. Kurasa perasaan ini hanya ada untuk orang-orang tak beradab saja, bukan untuk kurasakan.

Tuhan, jika Engkau benar-benar ada; mengapa aku Tuhan? Mengapa aku? Mengapa tidak kau utus wanita jalang lain saja yang harus mengalami hal ini? Aku mempunyai masa depan! Mengapa Kau renggut itu daripadaku? Aku memiliki segudang prestasi. Aku, seorang mahasiswi berprestasi tingkat akhir teknik elektro. Masa depan dan karirku cemerlang! Tidak sembarang perempuan bisa mencapai posisi seperti ini Tuhan! Hanya sedikit lagi, aku akan memiliki hidup yang penuh kelimpahan! Tapi mengapa.. Mengapa harus aku? Mengapa bukan si Jenny, gadis modis namun bodoh itu? Jelas dia lebih menawan daripada aku, toh dia juga bodoh, masa depannya suram. Mengapa bukan si Denissa, si cerewet kuper itu? Walaupun dia lumayan cantik, toh dia tidak punya sahabat. Mau dia hamil juga bukan masalah besar baginya. Masa depannya juga tetap suram. Tapi ini masa depanku Tuhan! Masa depan yang kubangun susah payah, dihancurkan oleh lelaki keparat itu! Kenapa Tuhaaan? Kenapaaaaaa! Sekalipun Tuhan yang merancang semua ini, mengapa tidak dari awal kau buat aku jadi pelacur. Mengapa Kau angkat aku meraih segudang prestasi membanggakan, jika pada akhirnya aku akan dipermalukan? Ini sangat kejam! Ini tidak adil! TIDAK ADIL! Di manakah Tuhan? Inikah rancangan agungmu atas hidupku? Apa jawabMu Tuhan?

Hujan semakin deras, seolah tidak mau kalah derasnya dengan aliran air mataku. Jeritan hatiku begitu menyayat-nyayat nuraniku. Ratapan bisuku ini membuatku semakin mual dan mengaduk-aduk isi perutku. Tiba-tiba,

BLAAR!

Suara guntur menghantam tanah. Keras sekali. Hentakan itu terasa sangat dekat. Aku melongok keluar jendela. Tidak, bukan tanah yang ia hantam. Rupanya kilat itu menyambar sebuah pohon kecil di seberang jalan. Pohon itu tumbang. Aneh, ini tidak ilmiah. Jelas rumah kosanku lebih tinggi daripada pohon itu, namun kenapa pohon itu yang tersambar? Lagipula juga ada pohon lain yang jauh lebih tinggi. Namun pohon itu sama sekali tidak tumbang. Adakah hubungannya dengan keluhan-keluhan yang aku ucapkan tadi? Inikah lawatanMu Tuhan? Melalui guntur yang mengerikan? Gila memang.

Ah, masa bodohlah dengan guntur. Lagipula hukum alam itu juga tidak adil. Petir akan selalu menyerang pohon yang paling tinggi di antara pohon-pohon lain di sekitarnya. Untuk apa pohon itu tumbuh tinggi-tinggi jika pada akhirnya sebuah petir akan menghancurkannya? Ini jelas kejam dan tidak adil! Lebih baik hujan dan petir tidak pernah ada di dunia ini.

“Ooh, jadi kertas itu asalnya dari pohon ya, Ma?”

Tentu saja, Nak!”

Tapi, kertas dan pohon kan bentuknya berbeda sekali!”

Aku tersentak oleh suara polos gadis kecil itu. Ah itu Rina, anak pemilik rumah kosanku. Keras juga suaranya, padahal seharusnya ruang bermainnya berjarak 10 meter dari kamarku. Ya memang kertas dari pohon, anak bodoh. Pohon-pohon itu sengaja dipelihara supaya suatu saat nanti ditebang dan dijadikan produk olahan, semacam kertas. Pohon-pohon itu sengaja diberi pupuk dan dirawat, supaya suatu saat ditebang, dihancurkan, dan dikoyak-koyak menjadi paper pulp. Pohon-pohon itu ada. Pohon-pohon itu berprestasi, menjadi pohon-pohon yang tinggi besar, memamerkan kekuatannya pada burung-burung dan langit. Namun pohon-pohon itu tidak akan pernah bermanfaat menjadi kertas jika ia tidak pernah ditebang dan dihancurkan.

Aku kembali termenung. Perkara-perkara kecil ini mulai mengusik pikiranku.

Petir.

Kilat.

Pohon.

Gadis kecil.

Kertas.

Janin.

 

Ratapan.

Lantas, Di manakah aku?

Saat itu, isak tangisku berhenti. Sekumpulan gagasan bermunculan di benakku. Bermacam-macam perasaan muncul mengaduk-aduk isi hatiku. Mengapa hal-hal itu ada dan bermunculan di sekitarku? Pohon kecil yang disambar petir jahanam. Pohon yang merupakan bahan dasar kertas. Kertas yang merupakan berkat besar bagi dunia. Aku terdiam. Keheningan batin yang sangat agung. Seolah terdapat suatu entitas yang berjalan-jalan di lorong-lorong hatiku. Entitas yang sangat agung. Seperti rakyat khalayak memberikan penghormatan saat Ratu Inggris melewati mereka. Keheningan ini mulai terasa menyeramkan.

Entah kenapa, tanpa diperintahkan otakku, otot-otot pada bibirku bergerak secara perlahan. Mereka membimbingku untuk tersenyum. Air mataku membludak, sekali lagi. Namun kali ini bukan air mata kesedihan. Tangis ini adalah tangisan syukur.

Siapakah aku?

Aku ada di tengah ribuan, tidak, milyaran benda kosmik yang melayang di angkasa semesta raya. Namun aku ada di sini, saat ini, bersama petir, kertas, dan ratapan. Kebetulan? Tidak masuk akal!

Hidup sedang membukakan rahasianya padaku. Dan Tuhan sendirilah instrukturnya.

Kehidupan adalah harapan. Hidup tidak selamanya baik. Hidup tidak selamanya tanpa awan, hujan, dan petir. Tapi hidup juga memuat pelangi dan kehangatan matahari di dalamnya. Persis seperti yang kurasakan saat ini.

Hujan seketika itu pula reda. Matahari menunjukkan jati dirinya pada langit dan titik-titik air, memantulkan dispersi cahaya yang luar biasa indah. Pemandangan ini membuatku tak kuasa tertawa penuh pengharapan.

 

Jelas Tuhan memberikan begitu banyak petunjuk mengenai kehidupan;

jika kita cukup peka..