Category: short story

Petir, Kertas, Ratapan dan Kehidupan

Hujan. Dingin. Sendiri.

Tiga kata itu yang mungkin paling baik untuk mendeskripsikan keadaan saat ini. Jika Tuhan yang mengatur semua ini, aku pun bersyukur; karena suasana seperti ini merupakan suasana terbaik bagiku untuk menghujamkan ribuan keluhan mengenai hidup.

Hidup itu mengeluh. Tak seorangpun yang tak pernah mengeluh. Begitu pula aku, dan janin yang ada dalam kandungku. Banyak kali aku mendengar cerita mengenai kehidupan orang-orang ‘di luar sana’, yang begitu mengerikan bagiku. Tak kusangka, sekarang hal itu terjadi padaku.

Sepertinya air hujan turun dengan kecepatan yang semakin kencang. Aku menafsirkan itu dari suara benturan titik-titik air yang menubruk atap rumah kosanku yang semakin keras. Oh menurut hukum Newton yang kupelajari, ini berarti posisi awan semakin ke atas. Semakin tinggi posisi suatu benda dijatuhkan, kecepatan yang dihasilkan saat benda itu mencapai tanah akan semakin besar. Oh seandainya aku adalah awan hujan itu. Seandainya aku bisa terbang tinggi ke angkasa dan meluapkan segala kegeramanku pada seisi dunia. Sepertinya itu menyenangkan, namun juga sekaligus mengerikan.

Sama seperti tetesan air hujan itu. Seluruh duniaku menghujani relung hatiku. Seolah ribuan telunjuk sedang menuding ke arahku, menyatakan bahwa aku orang paling berdosa di dunia ini. Tidak, tidak. Bukan aku yang paling berdosa. Aku bukanlah pelakunya. Aku adalah korbannya. Tidak, tidak. Namun hal ini juga tidak akan terjadi jika aku bisa mengendalikan diriku. Aaaaargh! Semua ini begitu membebani pikiranku. Tidak, tidak. Tidak seorangpun dapat menolongku. Tidak, tidak. Tidak seorang pun akan percaya padaku. Tidak seorang pun boleh tahu.. bahwa aku hamil.

Kejadian itu berlangsung dua hari yang lalu. Aku menerima sebuah surat di kamar kosanku. Surat kaleng. Seseorang telah menjadi secret admirerku selama bertahun-tahun. Ia memberikan berjuta-juta pujian dan sanjungan atas kehidupanku. Dengan bodohnya, aku merasa tersanjung dan terhormat. Aku terjebak oleh buaian gombal pria jahanam itu! Di akhir surat, ia memberikan suatu alamat. Ia memintaku datang ke sana, untuk bertemu dengannya. Dengan hati yang berbunga-bunga, aku datang ke tempat itu. Tanpa pernah aku tahu apa yang sebenarnya terjadi di sana, aku hanya mengingat bau zat kimia memuakkan yang tak pernah kucium sebelumnya. Menusuk hidung, menyakiti ke paru-paru, menggerogoti seluruh organ tubuhku. Lemas dan semua gelap. Hal terakhir yang kuingat saat aku bangun, adalah rembesan air mata yang bercampur darah di sekujur lantai rumah tak berpenghuni itu. Semua terjadi begitu saja, tanpa pernah aku tahu siapa dia.

Rupanya punggung tangan kananku sudah banjir air mata. Belum pernah kurasakan pedih yang sedalam ini. Aku dulunya adalah segalanya. Tapi hanya dalam hitungan jam, aku bukanlah apa-apa. Aku kotor. Aku hina. Aku buruk. Aku sakit. Aku terkutuk! Tak pernah terpikir bahwa aku akan merasakan momen seperti ini. Kurasa perasaan ini hanya ada untuk orang-orang tak beradab saja, bukan untuk kurasakan.

Tuhan, jika Engkau benar-benar ada; mengapa aku Tuhan? Mengapa aku? Mengapa tidak kau utus wanita jalang lain saja yang harus mengalami hal ini? Aku mempunyai masa depan! Mengapa Kau renggut itu daripadaku? Aku memiliki segudang prestasi. Aku, seorang mahasiswi berprestasi tingkat akhir teknik elektro. Masa depan dan karirku cemerlang! Tidak sembarang perempuan bisa mencapai posisi seperti ini Tuhan! Hanya sedikit lagi, aku akan memiliki hidup yang penuh kelimpahan! Tapi mengapa.. Mengapa harus aku? Mengapa bukan si Jenny, gadis modis namun bodoh itu? Jelas dia lebih menawan daripada aku, toh dia juga bodoh, masa depannya suram. Mengapa bukan si Denissa, si cerewet kuper itu? Walaupun dia lumayan cantik, toh dia tidak punya sahabat. Mau dia hamil juga bukan masalah besar baginya. Masa depannya juga tetap suram. Tapi ini masa depanku Tuhan! Masa depan yang kubangun susah payah, dihancurkan oleh lelaki keparat itu! Kenapa Tuhaaan? Kenapaaaaaa! Sekalipun Tuhan yang merancang semua ini, mengapa tidak dari awal kau buat aku jadi pelacur. Mengapa Kau angkat aku meraih segudang prestasi membanggakan, jika pada akhirnya aku akan dipermalukan? Ini sangat kejam! Ini tidak adil! TIDAK ADIL! Di manakah Tuhan? Inikah rancangan agungmu atas hidupku? Apa jawabMu Tuhan?

Hujan semakin deras, seolah tidak mau kalah derasnya dengan aliran air mataku. Jeritan hatiku begitu menyayat-nyayat nuraniku. Ratapan bisuku ini membuatku semakin mual dan mengaduk-aduk isi perutku. Tiba-tiba,

BLAAR!

Suara guntur menghantam tanah. Keras sekali. Hentakan itu terasa sangat dekat. Aku melongok keluar jendela. Tidak, bukan tanah yang ia hantam. Rupanya kilat itu menyambar sebuah pohon kecil di seberang jalan. Pohon itu tumbang. Aneh, ini tidak ilmiah. Jelas rumah kosanku lebih tinggi daripada pohon itu, namun kenapa pohon itu yang tersambar? Lagipula juga ada pohon lain yang jauh lebih tinggi. Namun pohon itu sama sekali tidak tumbang. Adakah hubungannya dengan keluhan-keluhan yang aku ucapkan tadi? Inikah lawatanMu Tuhan? Melalui guntur yang mengerikan? Gila memang.

Ah, masa bodohlah dengan guntur. Lagipula hukum alam itu juga tidak adil. Petir akan selalu menyerang pohon yang paling tinggi di antara pohon-pohon lain di sekitarnya. Untuk apa pohon itu tumbuh tinggi-tinggi jika pada akhirnya sebuah petir akan menghancurkannya? Ini jelas kejam dan tidak adil! Lebih baik hujan dan petir tidak pernah ada di dunia ini.

“Ooh, jadi kertas itu asalnya dari pohon ya, Ma?”

Tentu saja, Nak!”

Tapi, kertas dan pohon kan bentuknya berbeda sekali!”

Aku tersentak oleh suara polos gadis kecil itu. Ah itu Rina, anak pemilik rumah kosanku. Keras juga suaranya, padahal seharusnya ruang bermainnya berjarak 10 meter dari kamarku. Ya memang kertas dari pohon, anak bodoh. Pohon-pohon itu sengaja dipelihara supaya suatu saat nanti ditebang dan dijadikan produk olahan, semacam kertas. Pohon-pohon itu sengaja diberi pupuk dan dirawat, supaya suatu saat ditebang, dihancurkan, dan dikoyak-koyak menjadi paper pulp. Pohon-pohon itu ada. Pohon-pohon itu berprestasi, menjadi pohon-pohon yang tinggi besar, memamerkan kekuatannya pada burung-burung dan langit. Namun pohon-pohon itu tidak akan pernah bermanfaat menjadi kertas jika ia tidak pernah ditebang dan dihancurkan.

Aku kembali termenung. Perkara-perkara kecil ini mulai mengusik pikiranku.

Petir.

Kilat.

Pohon.

Gadis kecil.

Kertas.

Janin.

 

Ratapan.

Lantas, Di manakah aku?

Saat itu, isak tangisku berhenti. Sekumpulan gagasan bermunculan di benakku. Bermacam-macam perasaan muncul mengaduk-aduk isi hatiku. Mengapa hal-hal itu ada dan bermunculan di sekitarku? Pohon kecil yang disambar petir jahanam. Pohon yang merupakan bahan dasar kertas. Kertas yang merupakan berkat besar bagi dunia. Aku terdiam. Keheningan batin yang sangat agung. Seolah terdapat suatu entitas yang berjalan-jalan di lorong-lorong hatiku. Entitas yang sangat agung. Seperti rakyat khalayak memberikan penghormatan saat Ratu Inggris melewati mereka. Keheningan ini mulai terasa menyeramkan.

Entah kenapa, tanpa diperintahkan otakku, otot-otot pada bibirku bergerak secara perlahan. Mereka membimbingku untuk tersenyum. Air mataku membludak, sekali lagi. Namun kali ini bukan air mata kesedihan. Tangis ini adalah tangisan syukur.

Siapakah aku?

Aku ada di tengah ribuan, tidak, milyaran benda kosmik yang melayang di angkasa semesta raya. Namun aku ada di sini, saat ini, bersama petir, kertas, dan ratapan. Kebetulan? Tidak masuk akal!

Hidup sedang membukakan rahasianya padaku. Dan Tuhan sendirilah instrukturnya.

Kehidupan adalah harapan. Hidup tidak selamanya baik. Hidup tidak selamanya tanpa awan, hujan, dan petir. Tapi hidup juga memuat pelangi dan kehangatan matahari di dalamnya. Persis seperti yang kurasakan saat ini.

Hujan seketika itu pula reda. Matahari menunjukkan jati dirinya pada langit dan titik-titik air, memantulkan dispersi cahaya yang luar biasa indah. Pemandangan ini membuatku tak kuasa tertawa penuh pengharapan.

 

Jelas Tuhan memberikan begitu banyak petunjuk mengenai kehidupan;

jika kita cukup peka..

Advertisements