Where are we, Indonesian in the Global Mathematics Community?

Sorry, in Bahasa Indonesia.

Kali ini saya tidak punya ide sama sekali untuk menulis dlm bhs Inggris. -____-

Yah, yang pasti saat ini saya sedang sibuk, cukup sibuk untuk tidak menulis dalam waktu berminggu-minggu. Sibuk apa? Ada deh. =p

Di postingan kali ini, saya ingin membagikan pemikiran saya mengenai kemampuan anak-anak bangsa dalam bermatematika. Diskusi mengenai pemikiran saya ini akan sangat saya hargai. Siang ini, di sebuah kelas “Pengantar” Analisis Real (jangan tanya kenapa ada ” ” di kata pengantar), seorang teman sekelas saya membawa buku “Berkeley problem in Mathematics”, sebuah buku kumpulan soal-soal yang dirasa “bagus” dan menantang untuk diselesaikan. Soal-soal ini, walaupun memang susah-susah, dirancang untuk dapat ‘dinikmati’ oleh para mahasiswa S1. Cakupan materi dari buku ini simpel: analisis dan aljabar. Namun demikian, penyelesaian soal-soal di buku ini membutuhkan energi ekstra, sama sekali ekstra (setidaknya bagi saya). Soal-soal yang berhasil saya solve dengan usaha saya sendiri dapat dihitung dengan jari. Demikian pengantar saya mengenai deskripsi buku. Bukan buku ini yang jadi pusat perhatian. Pusat perhatian saya adalah pada ucapan dosen saya, “Wah kamu bawa buku Berkeley? Bagus. Kalau kamu mau sekolah di Eropa, buku itu yang akan jadi standar qualifikasi kamu.”

Sontak, saya berpikir, “Ah, bapak ini lebai kali.” Itu standar yang sangat tinggi cuy! Level IMC mungkin ya? Gatau juga sih, saya ga pernah ikut IMC jd juga ga tau. Haha. Tapi yang lebih mengejutkan, si bapak itu tiba-tiba menghadirkan salah satu mahasiswanya yang lulusan Jerman ke kelas, dan mahasiswanya itu bercerita bahwa memang standar di Eropa dan standar di Indonesia memang jauh beda banget! Masa di tingkat 1 mereka udah belajar analisis real & kompleks? Terus di tingkat 3, bahkan mereka udah belajar analisis fungsional, teori ukuran, & integral Lebesgue; yang notabene itu materi kuliah pasca sarjana Matematika ITB. Ini matematika ITB loh, salah satu kampus terbaik bangsa, bukan kampus ‘ecek-ecek’ di Indonesia. Loh tapi kalo dibanding dg kampus di Jerman sana, kampus kita jadi ‘ecek-ecek’ loh. Lulusan sarjana mereka setara dengan pengetahuan pasca sarjana kita.

Yang saya bingungkan adalah ini: apa emang standar kita yang terlalu rendah? atau mereka yang terlalu tinggi? Kalo memang kita yang terlalu rendah, kenapa tidak pernah bisa dibuat lebih tinggi? Apa itu karena secara rata-rata kemampuan bermatematika bangsa Indonesia lebih cupu dibanding bangsa Kaukasian? Apakah itu bisa ditingkatkan? Kalo memang mereka yang terlalu tinggi, perlukah kita berpuas diri? Kemampuan bangsa Kaukasian tinggi itu apakah memang semuanya secara rata-rata lebih ‘jago’ matematika, atau cuma ‘upper bound’nya saja? Seberapa effort yang perlu kita berikan untuk mendukung pendidikan matematika perguruan tinggi Indonesia? Pentingkah itu?

Di manakah bangsa kita dalam komunitas matematika global?

Advertisements

2 comments

    • Joseph Tsang

      wah timpang parah. gilak. pertanyaannya, apa emang rata2 kemampuan anak2nya dari ‘dasar’nya lebih encer dr punya kita, ato cuma upper bound mrk aja? knapa kita ga bisa spt mrk? yang mempengaruhi itu faktor lingkungan aja ato emg ada pengaruh bawaan ras suku bangsanya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s